My delivery and Labor

Walaupun dari dulu sudah sering mendengar kisah melahirkan ibu-ibu lainnya, tapi memang mengalami secara langsung memberikan perspektif baru.

Berhubung kejadian melahirkan saya masih agak-agak fresh, yaitu 3,5 bulan yang lalu, jadi saya masih sering terpana setiap kali melihat anak saya. Membayangkan ada manusia kecil yang selama 9 bulan bikin saya penasaran seperti apa wajahnya. Hanya 3 kali melihat siluetnya dari USG, juga merasakan aksi akrobat dan garuk-garuknya dari dalam perut. Sekarang wujudnya sudah ada didepan mata, bisa dipeluk, dicium, dan diunyel-unyel ūüėÖ

It was a real divine experience

Di trimester ke-3 saya dan suami mengikuti kelas antenatal sampai minggu pertemuan terakhir dimana si bayi mengira mamanya sudah cukup siap mental untuk menyambut dirinya, and popped he pushed down so hard to meet me!

Khususnya di NZ, setiap calon orang tua pertama biasa direkomendasikan untuk mengambil kelas antenatal untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk melahirkan dan merawat newborn. Waktu itu saya memutuskan untuk sign-up karena saya merasa belum cukup tau apa saja yang perlu dipersiapkan dan bagaimana saya bisa merawat si bayi nantinya. Karena tinggal jauh dari keluarga, saya merasa tidak mendapatkan cukup petuah dari ibu, tante-tante dan mamah-mamah senior yang mungkin kalo saya lebih sering ketemu, mereka akan secara otomatis memberikan tips dan tricks seputar kehamilan, melahirkan, dan anak.

Dari awal kehamilan saya sudah yakin kalau saya mau dan bisa melahirkan secara natural. Dan memang disini opsi C-section hanya diberikan untuk calon ibu yang kondisinya high risk (e.g: diabetes, placenta previa, breech). Walaupun¬†sejujurnya, di trimester pertama saya sesekali mengalami panick attack kalo membayangkan hari H dimana saya ada di atas tempat tidur rumah sakit, ngeden kesakitan, dan teringat ungkapan “melahirkan itu seperti di antara hidup dan mati” DENG DENG DENGG! bikin horor dan sesekali berhasil membuat saya meneteskan air mata. hikss

Nah, awalnya saya¬†denial:¬†saya pasti bisa menemukan cara melahirkan yang tanpa rasa sakit. So i did my months of research ūüėā . Berdasarkan rekomendasi sepupu-sepupu saya yang bisa melahirkan dengan lebih tenang, mereka suggest buku Hypnobirthing yang ditulis oleh Marie Mongan.

Wow and wowww!! Baru baca bagian pertama aja rasanya langsung hilang gambaran melahirkan yang horor. Bab demi bab semakin meyakinkan saya kalau proses persalinan saya nanti (walaupun tidak berharap pain free) akan lebih tenang. Sejarah mengenai budaya dan tradisi melahirkan yang disebutkan di buku Hypnobirthing itu seperti memberi saya kekuatan “Kalau yang lain bisa, saya juga bisa”

Berbeda dengam kebanyakan orang hamil lain yang kadang penasaran melihat video delivery di Youtube, saya justru sama sekali tidak tertarik. Disamping tidak tertarik melihat ‘the busy end‘ orang lain, tapi saya emang ga mau nambah-nambah sugesti horor lebih banyak di kepala saya. Sampai akhirnya saya baru tau istilah gentle birth dan saya justru lumayan sering¬†melihat cuplikan video melahirkan yang tenang di Instagram. Efeknya? saya tambah pede. Bring it on, baby!!! Sampai sempat terpikir juga untuk ikut-ikutan melahirkan waterbirth di rumah. Tapi nampaknya suami kurang mendukung dan saya juga belum kebayang after mess nya seperti apa. So i skipped the thought.

Panick attack was long gone, welcome new empowered mom-to-be me.. And here came the tricky part:

People just loved telling me that birthing is:

Hard

Very painful

“You should go for Epidural/Gas on air”

and they would laugh on the idea of me not planning to go with epidural

But you know what? it gave me more strength to prove them wrong.

Sampai akhirnya suatu malam saya mulai ingin lebih membiasakan teknik relaksasi yang diajarkan di buku Hypnobirthing. Berhubung saya pinjam dari perpustakaan, entah kenapa audio CD bawaan dari bukunya tidak ada. Jadi saya cek di internet untuk liat apakah Whitcoulls (toko buku) jual buku itu, saya berencana untuk beli keesokan harinya. YESS!! mereka jual. jadi besok saya mau beli.

“Tapi.. coba cek dulu ah, siapa tau ada contoh audionya di youtube”. Ternyata ga ada, jadi saya dengerin audio self-hypnosis lainnya yang berhubungan dengam birth affirmation. saking relaxnya saya ketiduran

ūüė™ūüė™ūüė™ūüė™

Pas lagi tidur itu, mimpinya gelap tapi banyak suara orang-orang yang mau menghipnotis. haduhh agak-agak nightmare. banyak suara laki-laki bernada datar dan serius (mungkin saat itu audio di youtube masih nyala, jadi separo sadar saya masih denger).

HHHHKKKHH…

Saya bangun agak merinding gara-gara mimpi tadi. malah jadi sedikit ga enak badan. (memang dari 3 hari sebelumnya saya lagi drop. level zat besi saya sangat rendah sampe-sampe saya sempet ga bisa berdiri untuk ambil minum, lebih parahnya lagi ga bisa angkat hp untuk minta tolong suami pulang). Jadi saya tidur lagi.. dan terbangun lagi. Kali ini badan saya makin berasa ga enak, sedikit kaya pegel dan punggung berasa nyeri. Waktu itu jam 3 malam, saya bangunin suami minta ditemenin karena hati makin berasa ga enak. Malahan resah keliling-keliling dalem kamar. jam 5 kita sms bidan. walaupun ga yakin kalo saya mengalami kontraksi atau bukan tapi bidannya bilang itu pre-labor signs. jadi saya bisa melahirkan hari itu atau keesokan harinya.

Oh

Em

Ji

!!!

Saya benar-benar tidak siap untuk melahirkan ¬†hari itu karna masih belum ada tenaga dari sakit ¬†beberapa hari yang sebelumnya.Untungnya hospital bag sudah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya; 1 koper baju saya, suami, dan jabang baby; 1 tas snack; dan 1 perlengkapan mandi. Semuanya dalam posisi terbuka di kamar (karena ada beberapa barang yang masih saya pakai tapi tinggal cemplung di hari H). Di sebelah pintu kamar juga sudah saya tempel post-it” barang-barang yang tinggal dicemplung”, seperti: bantal, charger, sikat gigi, slippers, dll.

Mungkin karena panik dan berhubung di list paling atas tulisannya “bantal” jadi begitu dapet balesan sms dari bu bidan tadi saya langsung instruksi suami untuk packing bantal.

Whaat..thee..heck..

“Saaam, cepet bantal sam, masukin ke koper,sekarang!”

Hahahahhh..

Pagi itu tingkat sakit kontraksi sudah mencapai level 5, tapi masih bisa dipaksakan snoozing beberapa kali. Baru pas siang, sudah mulai salah tingkah dan berharap udah dibolehin ke rumah sakit. Tapi bu bidan cuman suruh hot shower atau berendem air panas. Akhirnya suami¬†sikat dan steril dulu bathtub dan isi air panas. memang lumayan membantu karena lebih relax, tapi berhubung pada saat itu lagi in the middle of winter, jadi airnya cepet dingin, dan ternyata waktu saya mau tambah air panas, persediaan air panasnya abis. halaah mak janggg… T_T

Sudah kontraksi, pake menggigil, pake anduk belum disiapin, dan suami pas dipanggil katanya mau buka puasa dulu.

Hedddeeehhh.. udah dibilang kaga usah puasa juga!!

Kondisi =  es to the mos to the si = ESMOSIH!

Dari sana pikiran sudah mulai terbang kesana kemari. Suami udah¬†mulai masukin barang ke mobil disertai seribu pertanyaan “Yang ini dibawa ga?”, “Yang ini butuh ga?”, “Kalo yang ini?”… Tuhaaannn

57140067

 

Akhirnya kita siap berangkat, tapi saya udah kehabisan tenaga, untuk naik tangga keluar menuju mobil aja ga sanggup. dalem hati udah mulai putus asa membayangkan saya ga mungkin kuat untuk push pada saat delivery nanti.

Benar saja, saya sampai rumah sakit jam 7.30 pembukaan 8. dari sini saya udah ga inget cerita lengkapnya, jadi kurang lebih saya tau ceritanya berdasarkan kesaksian suami ūüėÄ

Beberapa minggu sebelumnya saya sudah mempersiapkan birthing plan dengan bu bidan, saya bilang mau coba waterbirth dan minta disediakan birthing ball. Jadi begitu sampai kamar saya langsung jebur ke ke jacuzzi panas. Ternyata karena terlalu panas, detak jantung si bayi jadi melambat, saya terpaksa keluar, dan bu bidan mempersilahkan saya ke atas mat dan birthing ball. Aselihh ga napsu. jadi saya pindah-pindah terus posisi:

Hands and knees,

di toilet,

deprok di bawah toilet,

di atas tempat tidur,

birthing stool,

balik lagi ke tempat tidur..

Waktu sudah semakin lama dan energi sudah semakin menipis, akhirnya diputuskan untuk ventouse, and with one little push, he’s out!

Awww…

Seketika begitu saya tau bayinya sudah keluar, semua rasa sakit hilang, semua ingatan tentang panjangnya 9 bulan kehamilan juga hilang, semua terlupakan untuk beberapa minggu kedepan bersama my wee newborn.

It was a beautiful, quiet and solemn night. just the two of us at the hospital.

I love his little crying, i love the pain i had endure, i’m very proud of my self

And mostly feel very grateful and thankful to god.

***

All in all, proses persalinan tidak berjalan seperti yang diimpikan, tapi Alhamdulillah saya sangat menikmati dan bisa stay calm selama di rumah sakit. Seperti kata-kata yang saya catat di pikiran saya dari perkataan Marie Mongan “Each surge brings the baby closer to me”. So, i wouldn’t describe my birthing as “painful” (even though it was), but rather a very divine process. Rasa sakit masuk ke ranking sekian, yang memang sudah saya expect dan sepadan dengan si bayi yang akhirnya bisa saya temui.

 

Kesimpulannya, walaupun malam itu saya lupa teknik pernapasan yang sudah saya latih dan beberapa hal lainnya yang sudah direncanakan dari buku Hypnobirthing dan saran-saran dari kelas antenatal, tapi yaaa sudah lah, apa daya memang dari awal saya sudah tidak punya tenaga.

2341fcf4876ab260608bc670dd412f47.jpg
Gigi lo gundul. Boro-boro inget 

 

Tapiiiiii.. sisi baiknya selama saya hamil saya ga khawatir atau takut menghadapi hari H, dan saya bisa melalui proses persalinan dengan tenang.

And it was all beautiful..

I love you me wee boy Ayden.

Million kiss

Dan salah satu andil yang sangat besar pada hari itu tentunya buat suami saya yang habis tenaganya untuk accupressure punggung saya selama hampir 24 jam.

Juga ayah saya yang berdoa di luar kamar rumah sakit,

Juga kakak ipar dan teman-teman yang menunggu diluar,

Juga doa keluarga yang ikut memantau detik-detik kelahiran.

(Macam menang award aja)

Oiya, salah satu tips dari saya (sebenernya dari ayah saya (dan ayah saya dari tante saya)), selain mempersiapkan fisik dan mental, ada banyak baiknya kalau sambil dibantu sedekah. konon setelah berjam-jam labor, dan sempat ada wacana untuk intervensi dengan c-section, si baby keluar tepat setelah ayah saya akhirnya bersedekah.

Hmm.. why not.

P.S: salah satu momen yang saya tidak akan lupa dari malam pertama bersama bayi di rumah sakit adalah ketika bidan gaul dan cantik berambut kepang yang bertugas malam itu bilang “Congratulations on your new baby, Keep him close as he’ll always want to be with you after 9 months inside your womb. This is your 4th trimester, he ate and slept whenever he wants. And now that it’s a big big world, you’re the only one who can make him feel secure”

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s