Yang saya tahu tentang picky eaters

Masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya Berpikir ulang tentang makanan, kali ini tulisan saya lebih fokus membahas tentang picky eaters.

Disclaimer: Saya bukan praktisi kesehatan, jadi tulisan ini tidak menggantikan pendapat profesional, melainkan sekedar sharing sedikit yang saya tahu.

Setiap anak, khususnya dimulai usia toddler melalui fase susah makan. Pertumbuhan mereka memang umumnya melambat dibanding satu tahun pertama, makanya nafsu makannya pun menurun. Kebanyakan orang tua khawatir dan mencoba segala cara agar anaknya makan banyak (nah ekspektasi ‘banyak’nya ini yang kadang malah bikin stres anak dan orang tua). Yang pasti, anak yang sehat punya kemampuan untuk meregulasi kebutuhan makannya -mereka PASTI akan makan kalau memang laper dan normal banget kalo mereka kadang mau makan, kadang cuma sedikit.

Kebetulan minggu lalu adalah kunjungan Plunket (semacam Posyandu) umur 15 bulannya A, waktu saya cerita kalo A lagi susah makan, dia bilang (kurleb begini): Jangan melihat seberapa banyak yang dimakan di setiap waktu makan, tapi lihat pola makan secara keseluruhan selama satu minggu. Mudah-mudahan make sense ya. Soalnya kadang ada hari-hari dimana mereka gak mau makan siang sama sekali, tapi bisa jadi diluar waktu itu mereka makan banyak. Ada juga anak-anak yang lebih suka snack, daripada makan. Naaah buat yang belum baca postingan saya sebelumnya, silahkan refer kesini deh. Intinya, berdasarkan pengamatan saya, seringnya problem susah makan ini lebih sering penyebabnya gara-gara ekspektasi makanan orang tua yang salah terhadap diet (apa yang dimakan) anak. Kalo di Indonesia, makan crackers atau cuma buah aja, tapi belum nasi, artinya belom makan. Padahal itu mindset orang dewasa aja sih (khususnya orang Indonesia yang budaya makanan pokoknya adalah nasi).

Balik lagi ke persoalan anak yang susah makan, tapi mau snack. sekarang saya coba definisikan kata ‘snack’ dulu ya biar kita sama-sama on a same page.

Menurut Wikipedia snack adalah:

Sebuah porsi makanan, yang lebih kecil daripada makan besar, biasanya dimakan diantara waktu makan (sarapan, maksi, makan malam). Yang termasuk snack bisa jadi makanan yang diproses baik pabrikan, ataupun dibuat dari bahan-bahan segar di rumah.

 

Nah snack ini sering juga disebut cemilan, tapi kata cemilan lebih identik dengan makanan kecil yang biasanya gak sehat (macam jajanan warung atau minimarket). Pastinya ibu-ibu dan bapak-bapak semua udah pada tau dan memang kepinginnya kasih makanan yang sehat buat anaknya ya. Tapi jangan salah, snack juga adalah makanan, jadi sediakan snack yang sehat. Saya gak akan bahas kalo anaknya emang milih jajan yang gak sehat, karena yang punya uang dan tanggung jawab atas apa yang dibeli adalah orang tua. Lihat pilihan makanan apa saja yang anda sediakan untuk di rumah, jadi jangan salahkan anak. Ada banyak opsi untuk menyediakan snack sehat, bisa bikin di rumah dengan pilihan bahan yang kita tentukan sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak perlunya apa, atau beli snack homemade yang gak pake pengawet juga sekarang udah banyak.

Tips :

  • Terlalu banyak susu bisa menganggu nafsu makan anak. 2 gelas (500-600ml) susu sehari cukup untuk toddler. catatan: susu segar ya bu, bukan susu rasa dengan warna-warni
  • Susu dan air ditawarkan diluar waktu makan, jadi mereka gak kembung duluan.
  • Waktu makan direncanakan ketika mereka gak terlalu cape.
  • Makanan dengan rasa baru biasanya ditolak, tapi jangan menyimpulkan mereka gak suka. coba terus (minimal 10 kali), karena lidah mereka masih belajar soal rasa.
  • Anak tidak memilih menu makanan, Tawarkan variasi makanan sebanyak-banyaknya walaupun awalnya ditolak
  • Naah, tapi biarkan anak yang memutuskan porsi banyak atau sedikitnya. Jangan paksakan mereka untuk menghabiskan yang di piring. Jadi sediakan sedikit-sedikit dulu. Ajarkan anak bahwa terlalu banyak makan atau membuang makanan tidak baik.
  • Mengajarkan anak SELALU dengan memberi contoh. Kalo kepingin anak makan sayur, ya mereka harus liat kalo kita juga makan sayur
  • Kalo kelihatannya gak laper, kurangi snacknya.
  • Kalo mereka menolak makanan, beri mereka beberapa menit untuk diam di hadapan makanannya sebelum turun dari highchair atau meja makan, gak perlu ditawarin makanan lain, apalagi treat atau dessert. mereka malah akan belajar kalo nolak makanan justru bakal dapet treat.
  • Jangan gunakan makanan sebagai rewards atau sogokan – mereka bakal nangkepnya kalo makanan itu ada yang “bagus” dan “jelek”

Yang gak kalah penting adalah, buat waktu makan menjadi pengalaman yang positif. Saya gak bilang “menjadi pengalaman yang menyenangkan” ya, tapi positif. Jadi gak perlu trying too hard to entertain them to eat. Positif karena makan itu adalah kenikmatan yang patut disyukuri.

  • Biarkan anak eksplor makanan dengan menyentuhnya. Expect some mess! Kotor tinggal disapu/lap.(BONUS SENSORY PLAY!)
  • Biarkan anak mencoba menyendok, merasakan di lidahnya, walaupun kemudian dilepeh. Seperti dalam hal lainnya hanya bantu mereka ketika dibutuhkan. Kuncinya sabar bu, jangan greget atau gatel kepingin buru-buru, kan namanya belajar. (Pelajaran lain: Lagi-lagi sesuaikan ekspektasi orang tua dengan kemampuan anak)
  • Makan bareng! (Lagi) Percayalah anak belajar dari melihat dan mereka seneng makan rame-rame atau ikut-ikutan makan makanan yang dimakan anak lain. Jadi jangan ditontonin kalo anak lagi makan. Kecuali makan yang bubur emg mesti disuapin ya. Nah disini saya combine BLW, sambil saya makan, A biasanya makan sedikit finger food yang gampang dikunyah dan ditelan, sambil saya mengahabiskan makan, baru suapin dia puree deh.
  • Tetapkan batasan di waktu makan – kita kan kepengennya mereka makan rapih, banyak, dan cepet. Tapi kayaknya itu ekspektasi yang muluk-muluk, yang pasti jangan sampe waktu makan jadi identik dengan mama/papa yang marah-marah.

Ingatlah wahai orang tua, sesusah-susahnya mereka makan, mereka kalo beneran lapar PASTI makan.

Perasaan kita harusnya si anak ni laper, tapi belom tentu, perut mereka jauh lebih kecil looh dari kita.

Catatan: Pastinya kondisi tiap anak kan beda-beda, menurut saya selama berat badan anak gak kurang atau kelebihan, anak sehat, aktif dan hepi, kayaknya gak perlu khawatir. But you know your child best, dengarkan kata hati, kalo memang khawatir, kenapa ngga tanya ke dokter.

referensi dan sebagian diterjemahkan dari: forbaby.co.nz

 

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s